Jason Williams (Michael Angarano) adalah seorang remaja dari Boston yang tergila-gila dengan ilmu bela diri Cina. Kegemaran Jason terhadap film -film silat Cina membuatnya sering pergi ke daerah pecinan untuk berburu film-film silat. Saat ia berada di toko Old Hop, secara tidak sengaja Jason melihat sebuah tongkat emas yang pernah ia lihat dalam mimpinya. Penasaran, ia pun mendesak Old Hop untuk memberitahu dari mana asal tongkat emas itu. Menurut Old Hop, seseorang meninggalkan tongkat itu pada kakeknya dan selama turun-temurun, Old Hop menunggu pemiliknya untuk datang mengambil.
Sepulang dari toko Old Hop, Jason bertemu dengan segerombolan berandal yang kemudian tertarik untuk merampok toko Old Hop. Para berandal itu memaksa Jason untuk membawa mereka masuk ke toko Old Hop. Dalam peristiwa perampokan itu, Old Hop tertembak sementara Jason berhasil melarikan diri sambil membawa tongkat emas Old Hop. Sayangnya Jason kemudian terjatuh dari atap dan tak sadarkan diri.
Saat terbangun, Jason menyadari bahwa ia berada di tempat yang asing. Jason terlempar ke suatu tempat di daratan Cina tapi dalam masa lampau. Tongkat emas yang dibawa Jason menarik perhatian segerombolan tentara yang kemudian berusaha merebut tongkat itu dari tangan Jason. Untungnya seorang pendekar mabuk bernama Lu Yan (Jackie Chan) lewat dan menolongnya.
Dari Lu Yan, Jason mengetahui bahwa tongkat yang ia bawa adalah milik si Kera Sakti (Jet Li) yang saat itu sedang ditawan Panglima Giok (Collin Chou). Panglima Giok berhasil mengalahkan si Kera Sakti setelah menipunya untuk bertarung tanpa senjata. Sebelum Panglima Giok berhasil mengubah Kera Sakti menjadi patung batu, Kera Sakti berhasil melemparkan tongkatnya menembus dimensi agar tak bisa dimiliki oleh Panglima Giok. Menurut legenda, seorang pemuda asing akan membawa kembali tongkat itu pada si Kera Sakti dan membebaskannya dari kutukan.
Jason dan Lu Yan kemudian bertemu dengan Si Burung Gereja Emas (Liu Yifei) dan seorang biksu (Jet Li) yang juga sedang berusaha mencari Panglima Giok dengan alasan mereka masing-masing. Lu Yan yang semula enggan untuk ikut mencari Panglima Giok akhirnya juga ikut dan bahkan bersama si biksu, Lu Yan kemudian melatih Jason ilmu bela diri sehingg mampu berkelahi dengan baik.
Akhirnya mereka menuju ketempat Panglima Giok untuk membebaskan si Kera Sakti.
Tidak ada segala sesuatu yang tidak mungkin, namun ada waktunya hidup itu berada di jurang ketidak mungkinan alam. segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, selama itu terjadi sini, ia tak kan pernah mempersulit setiap masing-masing individu. itulah adanya. diakui atau tidak, kesemuanya merupakan hukum alam yang tak kan bisa ditolak oleh manusia biasa seperti kita. ini adalah sebuah, serangkaian kata dari keseluruhan sisi hidup, terang atau gelap. semua terrangkum dalam kumpulan mozaik.
Jumat, 04 Februari 2011
Sabtu, 01 Januari 2011
Judul Resensi : Kata dan Pilihan Kata
Judul Buku : Diksi dan Gaya Bahasa
Penulis : Dr. Gorys Keraf
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Kategori Buku : Nonfiksi
Tahun Terbit : 2010
Cetakan Ke- : 20
Harga Buku : Rp 24.000,00
Tebal Buku : 155 Halaman
ISBN : 978-979-22-2657-7
Buku Diksi dan Gaya Bahasa ini adalah lanjutan dari buku Komposisi, yang sampai saat ini sudah mengalami ulang-cetak yang keenam. Buku Komposisi dimaksudkan terutama untuk meletakan dasar-dasar karang-mengarang bagi mahasiswa atau siapa saja, yang ingin menggarap karangan secara baik dan teratur. Sedangkan Diksi dan Gaya Bahasa mencoba memperkenalkan komposisi dilihat dari segi retorika. Bersama dua buku lainnya yang diterbitkan dalam rangkaian seri retorika ini, ketiga buku ini merupakan komposisi lanjutan.
Sebagai landasan komposisi ilmiah, disamping hal-hal yang telah dikemukakan dalam buku Komposisi, seorang penulis harus memperhatikan pula masalah Diksi dan Gaya Bahasa, serta masalah Eksposisi, Argumentasi, Deskripsi, dan Narasi. Buku ini secara khusus mengetengahkan masalah Diksi dan Gaya Bahasa.
Untuk dapat menulis sebuah karangan – baik fiksi maupun ilmiah – tentulah dibutuhkan persyaratan tertentu. Persyaratan tersebut antara lain: seseorang harus mampu memilih kata-kata yang tepat, harus luas kosa katanya, harus mampu menggunakan kamus yang ada, dan lain-lain. Disamping itu, seorang penulis harus mampu mengungkapkan maksud dengan gaya bahasa yang cocok dan tepat.
Buku ini mengandung penjelasan mengenai apa itu retorika, kata dan pilihan kata, kamus sebagai sumber diksi, perluasan kosa kata, pendayagunaan kata dan ketepatan pilihan kata, pendayagunaan dan kesesuaian pilihan kata, serta tentang gaya bahasa. Semua diracik secara terperinci dan sistematis di dalam buku Diksi dan Gaya Bahasa yang ditulis oleh Keraf ini.
Pada bagian pertama, penulis membahas mengenai apa itu retorika. Retorika adalah suatu istilah yang secara tradisional diberika kepada suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik. Studi mengenai retorika inilah yang akhirnya mempengaruhi perkembangan kebudayaan Eropa dari jaman kuno hingga abad XVII Masehi. Sejarah pertumbuhan retorika dari jaman Yunani kuno menunjukan bahwa tekanan seni wacana ini diletakan pada oratori atau seni berpidato. Tetapi setelah penemuan mesin uap dan mesin cetak, maka retorika sebagai seni berpidato mulai merosot peranannya, dan diganti dengan seni mengguakan bahasa secara tertulis. Pada waktu ditemukan media komunikasi elektronis, yaitu sejak diperkenalkan pada abad V sebelum Masehi sampai sekarang, pengertian retorika itu juga mengalami perkembangan. Karena perubahan-perubahan retorika sesuai dengan tujuan yang berlainan itu, maka buku-buku pegangan mengenai retorika juga hanya mencakup sebagian saja dari aspek-aspek retorika yang ada. Karena retorika juga berusaha mempengaruhi sikap dan perasaan orang, maka ia dapat mempergunakan semua unsur yang berkaitan dengan kaida-kaidah keefektifan dan keindaha gaya bahasa.
Melihat perkembangan dan pergeseran tekanan dan makna retorika sebagaiman dikemukakan secara singkat di atas, maka dapat dikatakan bahwa: retorika adalah suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, baik lisan maupun tertulis, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik.
Tidak ada batasan mengenai kata yang sahih bagi semua bahasa di dunia. Dalam kegiatan komunikasi, kata-kata dijalin-satukan dalam suatu konstruksi yang lebih besar berdasarkan kaidah-kaidah sintaksis yang ada dalam suatu bahasa. Pengertian yang tersirat dalam sebuah kata itu mengandung makna bahwa tiap kata mengungkapkan sebuah gagasan atau sebuah ide. Bila kita menyadari bahwa kata merupakan alat penyalur gagasan, maka hal itu berarti semakin banyak kata yang dukuasai seseorang, semakin banyak pula ide atau gagasan atau yang dikuasainya dan yang sanggup diungkapkannya. Dalam hal ini penulis menerangkan tentang sebuah kata dan gagasan yang biasa dipakai para penulis lain untuk menulis sebuah karangan – baik fiksi maupun nonfiksi.
Penulis yang pernah mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi di Universitas Indonesia ini juga menyimpulkan beberapa poin mengenai diksi. Pertama, pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakaiuntuk menyampaikan suatu gagasan. Kedua, pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Ketiga, pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud perbendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh sebuah bahasa. Dalam penyampaiannya mengenai makna kata, penulis yang saat ini menjadi pengajar tetap di Fakultas Sastra UI ini menggunakan sebuah skema atau gambar tentang sebuah hubungan yang mengakibatkan makna dari sebuah kata.
Masalah bentuk kata lazim dibicarakan dalam tata bahasa setiap bahasa. Pada umumnya makna kata pertama-tama dibedakan atas makna yang bersifat denotatif dan makna yang bersifat konotatif. Kata yang tidak mengandung makna atau perasaan-perasaan tambahan disebut kata denotatif, atau maknanya disebut makna denotatif; sedangkan makna kata yang mengandung arti tambahan perasaan tertentu, atau nilai rasa tertentu disamping makna dasar yang umum, dinamakan makna konotatif atau konotasi. Kita membedakan dua macam relasi, yaitu relasi antara bahasa dengan dunia pengalaman yang disebut referensi atau makna, dan relasi antar unsur-unsur bahasa sendiri yang disebut penertian (sense).
Struktur leksikal adalah bermacam-macam relasi semantik yang terdapat pada kata. Hubungan antara kata itu dapat berwujud: sinonimi, polisemi, homonimi, hiponimi, dan antonimi.
Bila berbicara mengenai pilihan kata, maka satu hal yang perlu pula mendapat perhatian adalah kamus. Kamus merupakan sebuah buku referensi yang memuat daftar kosa kata yang terdapat dalam sebuah bahasa, yang disusun secara alfabetis disertai keterangan bagaimana mengggunakan kata itu. Kamus itu sendiri dibedakan menurut luas lingkup isinya.
Kamus sebagai sumber diksi disini maksudnya adalah ketika kita bisa memilih dan menggunakan sebuah kata, tentunya harus bisa menggunakan kamus sebagai sumber untuk memperkaya perbendaharaan kata kita. Seperti telah disinggung sebelumnya, bahwa bila seseorang kaya akan perbendaharaan kata, maka secara otomatis ia bisa mengungkapkan ide atau gagasan yang kaya pula. Setelah memiliki kosa kata yang cukup kaya, kita bisa memperluas kosa kata sesuai dengan kemampuan kita. Tentunya untuk memperluas kosa kata itu harus tepat dalam penggunaannya. Misalnya apakah itu kata umum ataupun kata khusus.
Setelah mempunyai perbendaharaan kata serta kesesuaian kata, kita bisa mendayagunakan kata dan kesesuaian dalam pilihan kata. Dalam hal ini termasuk mengenai bahasa standar dan substandar, kata ilmiah dan kata populer, jargon, kata percakapan, kata slang idiom, serta bahasa artifisial.
Dari uraian yang telah disebutkan diatas, barulah kita bisa menggunakan gaya bahasa apa yang sesuai. Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika, dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin stillus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Jadi, gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa).
Gaya bahasa juga memiliki sendi, yaitu kejujuran, sopan-santun, dan menarik. Gaya bahasa dapat ditijau dari bermacam-macam sudut pandangan, diantaranya dari segi nonbahasa dan segi bahasa. Setelah bisa menggunakan gaya bahasa ini dengan bijak, kita bisa memulai untuk menulis karangan – baik itu fiksi maupun ilmiah.
Keistimewaan yang tersurat maupun tersirat dalam buku setebal 155 halaman ini adalah sistematika penulisannya yang menawan dan memiliki keteraturan sedemikian rupa. Indah dan enak untuk dibaca. Apalagi bagi mahasiswa yang ingin menulis sebuah karya ilmiah, makalah, ataupun tugas akhir, buku ini seyogyanya bisa dijadikan referensi untuk membantu melengkapi. Serta bisa membuat karya dengan keindahan gaya bahasa yang berbeda dengan yang lainnya.
Namun, tak ada gading yang tak retak. Meski sitematika penulisannya yang bagus, sayangnya buku ini belum bisa digunakan oleh semua kalangan. Pelajar SMA misalnya. Sebab kata-kata yang tergores di dalam buku ini bisa dibilang sukar dimengerti sekilas. Jadi perlu kecermatan lebih untuk dapat memahaminya.
Nah, untuk lebih jelasnya mengenai isi dari buku Diksi dan Gaya Bahasa yang diperkenalkan oleh Dr. Gorys Keraf ini, Anda bisa membelinya di toko buku terdekat.
Wallahu a’lamu bishawab.
Judul Buku : Diksi dan Gaya Bahasa
Penulis : Dr. Gorys Keraf
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Kategori Buku : Nonfiksi
Tahun Terbit : 2010
Cetakan Ke- : 20
Harga Buku : Rp 24.000,00
Tebal Buku : 155 Halaman
ISBN : 978-979-22-2657-7
Buku Diksi dan Gaya Bahasa ini adalah lanjutan dari buku Komposisi, yang sampai saat ini sudah mengalami ulang-cetak yang keenam. Buku Komposisi dimaksudkan terutama untuk meletakan dasar-dasar karang-mengarang bagi mahasiswa atau siapa saja, yang ingin menggarap karangan secara baik dan teratur. Sedangkan Diksi dan Gaya Bahasa mencoba memperkenalkan komposisi dilihat dari segi retorika. Bersama dua buku lainnya yang diterbitkan dalam rangkaian seri retorika ini, ketiga buku ini merupakan komposisi lanjutan.
Sebagai landasan komposisi ilmiah, disamping hal-hal yang telah dikemukakan dalam buku Komposisi, seorang penulis harus memperhatikan pula masalah Diksi dan Gaya Bahasa, serta masalah Eksposisi, Argumentasi, Deskripsi, dan Narasi. Buku ini secara khusus mengetengahkan masalah Diksi dan Gaya Bahasa.
Untuk dapat menulis sebuah karangan – baik fiksi maupun ilmiah – tentulah dibutuhkan persyaratan tertentu. Persyaratan tersebut antara lain: seseorang harus mampu memilih kata-kata yang tepat, harus luas kosa katanya, harus mampu menggunakan kamus yang ada, dan lain-lain. Disamping itu, seorang penulis harus mampu mengungkapkan maksud dengan gaya bahasa yang cocok dan tepat.
Buku ini mengandung penjelasan mengenai apa itu retorika, kata dan pilihan kata, kamus sebagai sumber diksi, perluasan kosa kata, pendayagunaan kata dan ketepatan pilihan kata, pendayagunaan dan kesesuaian pilihan kata, serta tentang gaya bahasa. Semua diracik secara terperinci dan sistematis di dalam buku Diksi dan Gaya Bahasa yang ditulis oleh Keraf ini.
Pada bagian pertama, penulis membahas mengenai apa itu retorika. Retorika adalah suatu istilah yang secara tradisional diberika kepada suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik. Studi mengenai retorika inilah yang akhirnya mempengaruhi perkembangan kebudayaan Eropa dari jaman kuno hingga abad XVII Masehi. Sejarah pertumbuhan retorika dari jaman Yunani kuno menunjukan bahwa tekanan seni wacana ini diletakan pada oratori atau seni berpidato. Tetapi setelah penemuan mesin uap dan mesin cetak, maka retorika sebagai seni berpidato mulai merosot peranannya, dan diganti dengan seni mengguakan bahasa secara tertulis. Pada waktu ditemukan media komunikasi elektronis, yaitu sejak diperkenalkan pada abad V sebelum Masehi sampai sekarang, pengertian retorika itu juga mengalami perkembangan. Karena perubahan-perubahan retorika sesuai dengan tujuan yang berlainan itu, maka buku-buku pegangan mengenai retorika juga hanya mencakup sebagian saja dari aspek-aspek retorika yang ada. Karena retorika juga berusaha mempengaruhi sikap dan perasaan orang, maka ia dapat mempergunakan semua unsur yang berkaitan dengan kaida-kaidah keefektifan dan keindaha gaya bahasa.
Melihat perkembangan dan pergeseran tekanan dan makna retorika sebagaiman dikemukakan secara singkat di atas, maka dapat dikatakan bahwa: retorika adalah suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, baik lisan maupun tertulis, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik.
Tidak ada batasan mengenai kata yang sahih bagi semua bahasa di dunia. Dalam kegiatan komunikasi, kata-kata dijalin-satukan dalam suatu konstruksi yang lebih besar berdasarkan kaidah-kaidah sintaksis yang ada dalam suatu bahasa. Pengertian yang tersirat dalam sebuah kata itu mengandung makna bahwa tiap kata mengungkapkan sebuah gagasan atau sebuah ide. Bila kita menyadari bahwa kata merupakan alat penyalur gagasan, maka hal itu berarti semakin banyak kata yang dukuasai seseorang, semakin banyak pula ide atau gagasan atau yang dikuasainya dan yang sanggup diungkapkannya. Dalam hal ini penulis menerangkan tentang sebuah kata dan gagasan yang biasa dipakai para penulis lain untuk menulis sebuah karangan – baik fiksi maupun nonfiksi.
Penulis yang pernah mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi di Universitas Indonesia ini juga menyimpulkan beberapa poin mengenai diksi. Pertama, pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakaiuntuk menyampaikan suatu gagasan. Kedua, pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Ketiga, pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud perbendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh sebuah bahasa. Dalam penyampaiannya mengenai makna kata, penulis yang saat ini menjadi pengajar tetap di Fakultas Sastra UI ini menggunakan sebuah skema atau gambar tentang sebuah hubungan yang mengakibatkan makna dari sebuah kata.
Masalah bentuk kata lazim dibicarakan dalam tata bahasa setiap bahasa. Pada umumnya makna kata pertama-tama dibedakan atas makna yang bersifat denotatif dan makna yang bersifat konotatif. Kata yang tidak mengandung makna atau perasaan-perasaan tambahan disebut kata denotatif, atau maknanya disebut makna denotatif; sedangkan makna kata yang mengandung arti tambahan perasaan tertentu, atau nilai rasa tertentu disamping makna dasar yang umum, dinamakan makna konotatif atau konotasi. Kita membedakan dua macam relasi, yaitu relasi antara bahasa dengan dunia pengalaman yang disebut referensi atau makna, dan relasi antar unsur-unsur bahasa sendiri yang disebut penertian (sense).
Struktur leksikal adalah bermacam-macam relasi semantik yang terdapat pada kata. Hubungan antara kata itu dapat berwujud: sinonimi, polisemi, homonimi, hiponimi, dan antonimi.
Bila berbicara mengenai pilihan kata, maka satu hal yang perlu pula mendapat perhatian adalah kamus. Kamus merupakan sebuah buku referensi yang memuat daftar kosa kata yang terdapat dalam sebuah bahasa, yang disusun secara alfabetis disertai keterangan bagaimana mengggunakan kata itu. Kamus itu sendiri dibedakan menurut luas lingkup isinya.
Kamus sebagai sumber diksi disini maksudnya adalah ketika kita bisa memilih dan menggunakan sebuah kata, tentunya harus bisa menggunakan kamus sebagai sumber untuk memperkaya perbendaharaan kata kita. Seperti telah disinggung sebelumnya, bahwa bila seseorang kaya akan perbendaharaan kata, maka secara otomatis ia bisa mengungkapkan ide atau gagasan yang kaya pula. Setelah memiliki kosa kata yang cukup kaya, kita bisa memperluas kosa kata sesuai dengan kemampuan kita. Tentunya untuk memperluas kosa kata itu harus tepat dalam penggunaannya. Misalnya apakah itu kata umum ataupun kata khusus.
Setelah mempunyai perbendaharaan kata serta kesesuaian kata, kita bisa mendayagunakan kata dan kesesuaian dalam pilihan kata. Dalam hal ini termasuk mengenai bahasa standar dan substandar, kata ilmiah dan kata populer, jargon, kata percakapan, kata slang idiom, serta bahasa artifisial.
Dari uraian yang telah disebutkan diatas, barulah kita bisa menggunakan gaya bahasa apa yang sesuai. Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika, dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin stillus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Jadi, gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa).
Gaya bahasa juga memiliki sendi, yaitu kejujuran, sopan-santun, dan menarik. Gaya bahasa dapat ditijau dari bermacam-macam sudut pandangan, diantaranya dari segi nonbahasa dan segi bahasa. Setelah bisa menggunakan gaya bahasa ini dengan bijak, kita bisa memulai untuk menulis karangan – baik itu fiksi maupun ilmiah.
Keistimewaan yang tersurat maupun tersirat dalam buku setebal 155 halaman ini adalah sistematika penulisannya yang menawan dan memiliki keteraturan sedemikian rupa. Indah dan enak untuk dibaca. Apalagi bagi mahasiswa yang ingin menulis sebuah karya ilmiah, makalah, ataupun tugas akhir, buku ini seyogyanya bisa dijadikan referensi untuk membantu melengkapi. Serta bisa membuat karya dengan keindahan gaya bahasa yang berbeda dengan yang lainnya.
Namun, tak ada gading yang tak retak. Meski sitematika penulisannya yang bagus, sayangnya buku ini belum bisa digunakan oleh semua kalangan. Pelajar SMA misalnya. Sebab kata-kata yang tergores di dalam buku ini bisa dibilang sukar dimengerti sekilas. Jadi perlu kecermatan lebih untuk dapat memahaminya.
Nah, untuk lebih jelasnya mengenai isi dari buku Diksi dan Gaya Bahasa yang diperkenalkan oleh Dr. Gorys Keraf ini, Anda bisa membelinya di toko buku terdekat.
Wallahu a’lamu bishawab.
Sabtu, 18 Juli 2009
TETAPLAH
Cirebon,
17 November 2008
17 Syawal 1429
Setiap nafas dalam dada ini
Terasa sesak
Namun jika ku dengar namamu
Rasanya udara ini tiba-tiba
Terada menyejukan
Menyegarkan
Perasaan itu terus berkesinambungan
Otak yang tertanam dalam kepalaku ini
Terasa hampa
Namun jika kulihat
Keteduhan wajahmua
Keteduhan itu seakan
Memberi kehidupan bagi
Para sel yang membeku
Peristiwa itu senantiasa berurutan
Tolong
Tetaplah seperti itu
Jangan biarkan luka yang dulu
Terbuka kembali olehmu
17 November 2008
17 Syawal 1429
Setiap nafas dalam dada ini
Terasa sesak
Namun jika ku dengar namamu
Rasanya udara ini tiba-tiba
Terada menyejukan
Menyegarkan
Perasaan itu terus berkesinambungan
Otak yang tertanam dalam kepalaku ini
Terasa hampa
Namun jika kulihat
Keteduhan wajahmua
Keteduhan itu seakan
Memberi kehidupan bagi
Para sel yang membeku
Peristiwa itu senantiasa berurutan
Tolong
Tetaplah seperti itu
Jangan biarkan luka yang dulu
Terbuka kembali olehmu
BERTARUH
Bandung,
5 Juli 2008
2 Rajab 1429
Satu jiwa kini
Berada di bui
Ia sendiri
Tak sanggup melepaskan
Diri
Mengapa begini
Apa senarnya yang terjadi
Tak sanggup ku menerima
Ini
Tengadah ia
Mengharap sesuatu
Yang tak mungkin ia dapat
Bagai sang pungguk
Merindukan sang rembulan
Satu masa
Ia temukan jawabnya
Masa bodoh dengannya
Yang sekarat dalam batinnya
Tak ada jalan lain
Baginya
Kecuali nyawa taruhannya
5 Juli 2008
2 Rajab 1429
Satu jiwa kini
Berada di bui
Ia sendiri
Tak sanggup melepaskan
Diri
Mengapa begini
Apa senarnya yang terjadi
Tak sanggup ku menerima
Ini
Tengadah ia
Mengharap sesuatu
Yang tak mungkin ia dapat
Bagai sang pungguk
Merindukan sang rembulan
Satu masa
Ia temukan jawabnya
Masa bodoh dengannya
Yang sekarat dalam batinnya
Tak ada jalan lain
Baginya
Kecuali nyawa taruhannya
Sabtu, 13 Juni 2009
TALI SIMPONI
Tali simponi
Mengikat satu janji
Merencanakan dua hati
Mengumpulkan simpul
Ironi
Menjadikan citra diri
Menjanjikan sebuah
Cinta sejati
Kabarnya tali itu
Kini menjadi Saturday merangkul bahu
Mengikat kuat membatu
Menjamak satuan kalbu
Tali tali tali
Hidup menawarkan tali menali
Simponi simponi simponi
Tetap kekal abadi
Dalam satuan bumi
Bandung
5 Juli 2008
2 Rajab 1429
Mengikat satu janji
Merencanakan dua hati
Mengumpulkan simpul
Ironi
Menjadikan citra diri
Menjanjikan sebuah
Cinta sejati
Kabarnya tali itu
Kini menjadi Saturday merangkul bahu
Mengikat kuat membatu
Menjamak satuan kalbu
Tali tali tali
Hidup menawarkan tali menali
Simponi simponi simponi
Tetap kekal abadi
Dalam satuan bumi
Bandung
5 Juli 2008
2 Rajab 1429
RAPUH
Bulan punama di malam hari
Menyinari apa-apa yang dapat disinari
Menyebarkan sinarnya
Memberikan segala yang ia punya
Hingga secercah cahaya tiba
Nanti
Sekarang siang matahari benderang
Menghangatkan apa-apa yang tadinya dingin
Membagi energi
Menjadikan hamparan bumi
Mengubah mimpi
Hingga kegelapan tiba
Nanti
Bumi berputar pada porosnya
Rembulan menari mengelilingi majikannya
Manusia berjalan pada takdirnya
Manusia hidup di atas pundaknya
Manusia pergi dan pulang menuju asalnya
Kerapuhan senantiasa bayangi
Setiap makhluk di bumi
Juga alam semesta
Tak ada yang abadi
Semua akan kembali
Pergi dan pulang sendiri-sendiri
Tanpa ada yang menemani
Sepi
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
Menyinari apa-apa yang dapat disinari
Menyebarkan sinarnya
Memberikan segala yang ia punya
Hingga secercah cahaya tiba
Nanti
Sekarang siang matahari benderang
Menghangatkan apa-apa yang tadinya dingin
Membagi energi
Menjadikan hamparan bumi
Mengubah mimpi
Hingga kegelapan tiba
Nanti
Bumi berputar pada porosnya
Rembulan menari mengelilingi majikannya
Manusia berjalan pada takdirnya
Manusia hidup di atas pundaknya
Manusia pergi dan pulang menuju asalnya
Kerapuhan senantiasa bayangi
Setiap makhluk di bumi
Juga alam semesta
Tak ada yang abadi
Semua akan kembali
Pergi dan pulang sendiri-sendiri
Tanpa ada yang menemani
Sepi
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
CEMPAKA PUTIH
Sekuntum bunga cempaka
Berwarna putih
Tertatih-tatih
Melirik sedih
Tanpa letih
Memandang mata nan pedih
Terpikir lagi peristiwa tadi
Membayangi kembali
Tadinya ku bermaksud melupakan diri
Sempat aku dibuatnya mati
Matahari terus bayangai
Kulitnya yang putih mewangi
Ia tak kunjung jua pergi
Meninggalkan aku yang terus di sini
Sampai aku mati kedua kali
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
Berwarna putih
Tertatih-tatih
Melirik sedih
Tanpa letih
Memandang mata nan pedih
Terpikir lagi peristiwa tadi
Membayangi kembali
Tadinya ku bermaksud melupakan diri
Sempat aku dibuatnya mati
Matahari terus bayangai
Kulitnya yang putih mewangi
Ia tak kunjung jua pergi
Meninggalkan aku yang terus di sini
Sampai aku mati kedua kali
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
PERASAAN
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati
Kata pepatah bilang
Cinta itu kini sedang
Bersemi di dalam
Jiwaku yang tak sendiri lagi
Setiap malam
Setiap sebelum terlelap
Aku tak akan terlewat
Mengukir namamu di atas
Kertas putih lagi suci
Wajahmu benar-benar
Telah meracuni pemikiranku
Mencari lilin pun
Tak kuasa pikiranku
Terus dihantui
Oleh bayang-bayang wajahmu
Wahai Yang Maha Pengasih
Lagi Maha Penyayang
Janganlah Engkau biarkan
Cinta Penghambaanku kepada-Mu
Merlemah hanya karena sebuah perasaan
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
Dari mata turun ke hati
Kata pepatah bilang
Cinta itu kini sedang
Bersemi di dalam
Jiwaku yang tak sendiri lagi
Setiap malam
Setiap sebelum terlelap
Aku tak akan terlewat
Mengukir namamu di atas
Kertas putih lagi suci
Wajahmu benar-benar
Telah meracuni pemikiranku
Mencari lilin pun
Tak kuasa pikiranku
Terus dihantui
Oleh bayang-bayang wajahmu
Wahai Yang Maha Pengasih
Lagi Maha Penyayang
Janganlah Engkau biarkan
Cinta Penghambaanku kepada-Mu
Merlemah hanya karena sebuah perasaan
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
DERU PEMIKIRAN
Deru pemikiran ini menggebu
Memandang sebuah masa lalu yang tabu
Ketika batu permata masih digenggam
Mutiara hitam masih berserakan di lautan
Raksasa hijau masih berkeliaran
Pijakan masih beraturan
Beribu abad telah berlalu
Batu permata telah dilepas
Diberikan kepada orang tidak jelas
Mutiara kini bisa dihitung jari
Raksasa hijau telah dibasmi
Si taring merah
Pijakan kini membaur
Tanpa arah tanpa tahu
Mana langit mana bumi
Keadaan zaman telah berubah
Dicabik-cabik si rubah
Singa yang tadinya perkasa
Di sebuah pulau kecilnya
Sekarang apatah daya
Sang mangsa tak ada tersisa
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
Memandang sebuah masa lalu yang tabu
Ketika batu permata masih digenggam
Mutiara hitam masih berserakan di lautan
Raksasa hijau masih berkeliaran
Pijakan masih beraturan
Beribu abad telah berlalu
Batu permata telah dilepas
Diberikan kepada orang tidak jelas
Mutiara kini bisa dihitung jari
Raksasa hijau telah dibasmi
Si taring merah
Pijakan kini membaur
Tanpa arah tanpa tahu
Mana langit mana bumi
Keadaan zaman telah berubah
Dicabik-cabik si rubah
Singa yang tadinya perkasa
Di sebuah pulau kecilnya
Sekarang apatah daya
Sang mangsa tak ada tersisa
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
DERITA
Apa siapa
Kapan
Dimana
Mengapa
Bagaimana
Sudah berapa dosa kita perbuat
Sudah berapa nikmat kita khianat
Mengapa
Apa yang sudah kita perbuat
Angina-angin kering kering menyusup
Ke dalam rongga-rongga tubuh
Membawa kabar derita
Alam sudah renta
Di sini ku tertegun mencernanya
Hatiku sudah tak berdaya
Mataku tak kuat melihatnya
Bibir ini sudah tak bisa berkata
Kapankah ini akan berakhir
Siapa yang bersalah
Dimana hati yang terdalam
Bagaimana kita melangkah ke depan
Sementara bumi enggan
Bumi sudah bosan
Menunggu jawaban kepastian
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
Kapan
Dimana
Mengapa
Bagaimana
Sudah berapa dosa kita perbuat
Sudah berapa nikmat kita khianat
Mengapa
Apa yang sudah kita perbuat
Angina-angin kering kering menyusup
Ke dalam rongga-rongga tubuh
Membawa kabar derita
Alam sudah renta
Di sini ku tertegun mencernanya
Hatiku sudah tak berdaya
Mataku tak kuat melihatnya
Bibir ini sudah tak bisa berkata
Kapankah ini akan berakhir
Siapa yang bersalah
Dimana hati yang terdalam
Bagaimana kita melangkah ke depan
Sementara bumi enggan
Bumi sudah bosan
Menunggu jawaban kepastian
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
Langganan:
Postingan (Atom)
