Bandung,
5 Juli 2008
2 Rajab 1429
Satu jiwa kini
Berada di bui
Ia sendiri
Tak sanggup melepaskan
Diri
Mengapa begini
Apa senarnya yang terjadi
Tak sanggup ku menerima
Ini
Tengadah ia
Mengharap sesuatu
Yang tak mungkin ia dapat
Bagai sang pungguk
Merindukan sang rembulan
Satu masa
Ia temukan jawabnya
Masa bodoh dengannya
Yang sekarat dalam batinnya
Tak ada jalan lain
Baginya
Kecuali nyawa taruhannya
Tidak ada segala sesuatu yang tidak mungkin, namun ada waktunya hidup itu berada di jurang ketidak mungkinan alam. segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, selama itu terjadi sini, ia tak kan pernah mempersulit setiap masing-masing individu. itulah adanya. diakui atau tidak, kesemuanya merupakan hukum alam yang tak kan bisa ditolak oleh manusia biasa seperti kita. ini adalah sebuah, serangkaian kata dari keseluruhan sisi hidup, terang atau gelap. semua terrangkum dalam kumpulan mozaik.
Sabtu, 18 Juli 2009
Sabtu, 13 Juni 2009
TALI SIMPONI
Tali simponi
Mengikat satu janji
Merencanakan dua hati
Mengumpulkan simpul
Ironi
Menjadikan citra diri
Menjanjikan sebuah
Cinta sejati
Kabarnya tali itu
Kini menjadi Saturday merangkul bahu
Mengikat kuat membatu
Menjamak satuan kalbu
Tali tali tali
Hidup menawarkan tali menali
Simponi simponi simponi
Tetap kekal abadi
Dalam satuan bumi
Bandung
5 Juli 2008
2 Rajab 1429
Mengikat satu janji
Merencanakan dua hati
Mengumpulkan simpul
Ironi
Menjadikan citra diri
Menjanjikan sebuah
Cinta sejati
Kabarnya tali itu
Kini menjadi Saturday merangkul bahu
Mengikat kuat membatu
Menjamak satuan kalbu
Tali tali tali
Hidup menawarkan tali menali
Simponi simponi simponi
Tetap kekal abadi
Dalam satuan bumi
Bandung
5 Juli 2008
2 Rajab 1429
RAPUH
Bulan punama di malam hari
Menyinari apa-apa yang dapat disinari
Menyebarkan sinarnya
Memberikan segala yang ia punya
Hingga secercah cahaya tiba
Nanti
Sekarang siang matahari benderang
Menghangatkan apa-apa yang tadinya dingin
Membagi energi
Menjadikan hamparan bumi
Mengubah mimpi
Hingga kegelapan tiba
Nanti
Bumi berputar pada porosnya
Rembulan menari mengelilingi majikannya
Manusia berjalan pada takdirnya
Manusia hidup di atas pundaknya
Manusia pergi dan pulang menuju asalnya
Kerapuhan senantiasa bayangi
Setiap makhluk di bumi
Juga alam semesta
Tak ada yang abadi
Semua akan kembali
Pergi dan pulang sendiri-sendiri
Tanpa ada yang menemani
Sepi
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
Menyinari apa-apa yang dapat disinari
Menyebarkan sinarnya
Memberikan segala yang ia punya
Hingga secercah cahaya tiba
Nanti
Sekarang siang matahari benderang
Menghangatkan apa-apa yang tadinya dingin
Membagi energi
Menjadikan hamparan bumi
Mengubah mimpi
Hingga kegelapan tiba
Nanti
Bumi berputar pada porosnya
Rembulan menari mengelilingi majikannya
Manusia berjalan pada takdirnya
Manusia hidup di atas pundaknya
Manusia pergi dan pulang menuju asalnya
Kerapuhan senantiasa bayangi
Setiap makhluk di bumi
Juga alam semesta
Tak ada yang abadi
Semua akan kembali
Pergi dan pulang sendiri-sendiri
Tanpa ada yang menemani
Sepi
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
CEMPAKA PUTIH
Sekuntum bunga cempaka
Berwarna putih
Tertatih-tatih
Melirik sedih
Tanpa letih
Memandang mata nan pedih
Terpikir lagi peristiwa tadi
Membayangi kembali
Tadinya ku bermaksud melupakan diri
Sempat aku dibuatnya mati
Matahari terus bayangai
Kulitnya yang putih mewangi
Ia tak kunjung jua pergi
Meninggalkan aku yang terus di sini
Sampai aku mati kedua kali
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
Berwarna putih
Tertatih-tatih
Melirik sedih
Tanpa letih
Memandang mata nan pedih
Terpikir lagi peristiwa tadi
Membayangi kembali
Tadinya ku bermaksud melupakan diri
Sempat aku dibuatnya mati
Matahari terus bayangai
Kulitnya yang putih mewangi
Ia tak kunjung jua pergi
Meninggalkan aku yang terus di sini
Sampai aku mati kedua kali
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
PERASAAN
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati
Kata pepatah bilang
Cinta itu kini sedang
Bersemi di dalam
Jiwaku yang tak sendiri lagi
Setiap malam
Setiap sebelum terlelap
Aku tak akan terlewat
Mengukir namamu di atas
Kertas putih lagi suci
Wajahmu benar-benar
Telah meracuni pemikiranku
Mencari lilin pun
Tak kuasa pikiranku
Terus dihantui
Oleh bayang-bayang wajahmu
Wahai Yang Maha Pengasih
Lagi Maha Penyayang
Janganlah Engkau biarkan
Cinta Penghambaanku kepada-Mu
Merlemah hanya karena sebuah perasaan
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
Dari mata turun ke hati
Kata pepatah bilang
Cinta itu kini sedang
Bersemi di dalam
Jiwaku yang tak sendiri lagi
Setiap malam
Setiap sebelum terlelap
Aku tak akan terlewat
Mengukir namamu di atas
Kertas putih lagi suci
Wajahmu benar-benar
Telah meracuni pemikiranku
Mencari lilin pun
Tak kuasa pikiranku
Terus dihantui
Oleh bayang-bayang wajahmu
Wahai Yang Maha Pengasih
Lagi Maha Penyayang
Janganlah Engkau biarkan
Cinta Penghambaanku kepada-Mu
Merlemah hanya karena sebuah perasaan
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
DERU PEMIKIRAN
Deru pemikiran ini menggebu
Memandang sebuah masa lalu yang tabu
Ketika batu permata masih digenggam
Mutiara hitam masih berserakan di lautan
Raksasa hijau masih berkeliaran
Pijakan masih beraturan
Beribu abad telah berlalu
Batu permata telah dilepas
Diberikan kepada orang tidak jelas
Mutiara kini bisa dihitung jari
Raksasa hijau telah dibasmi
Si taring merah
Pijakan kini membaur
Tanpa arah tanpa tahu
Mana langit mana bumi
Keadaan zaman telah berubah
Dicabik-cabik si rubah
Singa yang tadinya perkasa
Di sebuah pulau kecilnya
Sekarang apatah daya
Sang mangsa tak ada tersisa
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
Memandang sebuah masa lalu yang tabu
Ketika batu permata masih digenggam
Mutiara hitam masih berserakan di lautan
Raksasa hijau masih berkeliaran
Pijakan masih beraturan
Beribu abad telah berlalu
Batu permata telah dilepas
Diberikan kepada orang tidak jelas
Mutiara kini bisa dihitung jari
Raksasa hijau telah dibasmi
Si taring merah
Pijakan kini membaur
Tanpa arah tanpa tahu
Mana langit mana bumi
Keadaan zaman telah berubah
Dicabik-cabik si rubah
Singa yang tadinya perkasa
Di sebuah pulau kecilnya
Sekarang apatah daya
Sang mangsa tak ada tersisa
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
DERITA
Apa siapa
Kapan
Dimana
Mengapa
Bagaimana
Sudah berapa dosa kita perbuat
Sudah berapa nikmat kita khianat
Mengapa
Apa yang sudah kita perbuat
Angina-angin kering kering menyusup
Ke dalam rongga-rongga tubuh
Membawa kabar derita
Alam sudah renta
Di sini ku tertegun mencernanya
Hatiku sudah tak berdaya
Mataku tak kuat melihatnya
Bibir ini sudah tak bisa berkata
Kapankah ini akan berakhir
Siapa yang bersalah
Dimana hati yang terdalam
Bagaimana kita melangkah ke depan
Sementara bumi enggan
Bumi sudah bosan
Menunggu jawaban kepastian
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
Kapan
Dimana
Mengapa
Bagaimana
Sudah berapa dosa kita perbuat
Sudah berapa nikmat kita khianat
Mengapa
Apa yang sudah kita perbuat
Angina-angin kering kering menyusup
Ke dalam rongga-rongga tubuh
Membawa kabar derita
Alam sudah renta
Di sini ku tertegun mencernanya
Hatiku sudah tak berdaya
Mataku tak kuat melihatnya
Bibir ini sudah tak bisa berkata
Kapankah ini akan berakhir
Siapa yang bersalah
Dimana hati yang terdalam
Bagaimana kita melangkah ke depan
Sementara bumi enggan
Bumi sudah bosan
Menunggu jawaban kepastian
Cirebon
10 Desember 2008
13 Dzulhijah 1429
SEBATANG LIDI
Aku tahu ini bukanlah
Sesuatu yang patut ditangisi
Aku mengerti cara mengatasi
Masalah bukanlah seperti ini
Aku paham seperti apa
Yang harus aku lakukan
Tapi perasaan hatiku
Begitu sakit rasanya
Laksana tersayat sebilah
Pisau nan tumpul
Mungkin inilah yang sering
Digandrungi para puitisi
Mengenai suasana hati
Mengenai perasaan diri
Padahal bukan hanya
Saat ini aku merasakannya
Pernah bahkan sering
Terjadi mengenai
Diri
Tapi perasaanku
Tetap saja belum terbiasa
Dengan keadaan sebenarnya
Setiap saat aku
Tutupi perasaanku yang terdalam
Dengan perasaan keceriaan
Diriku yang berada di luar
Mrskipun kian hari
Rasa sakit tak dapat dihindari
Umurku tinggal
Sebatang lidi
Cirebon
13 Desember 2008
16 Dzulhijah 1429
Sesuatu yang patut ditangisi
Aku mengerti cara mengatasi
Masalah bukanlah seperti ini
Aku paham seperti apa
Yang harus aku lakukan
Tapi perasaan hatiku
Begitu sakit rasanya
Laksana tersayat sebilah
Pisau nan tumpul
Mungkin inilah yang sering
Digandrungi para puitisi
Mengenai suasana hati
Mengenai perasaan diri
Padahal bukan hanya
Saat ini aku merasakannya
Pernah bahkan sering
Terjadi mengenai
Diri
Tapi perasaanku
Tetap saja belum terbiasa
Dengan keadaan sebenarnya
Setiap saat aku
Tutupi perasaanku yang terdalam
Dengan perasaan keceriaan
Diriku yang berada di luar
Mrskipun kian hari
Rasa sakit tak dapat dihindari
Umurku tinggal
Sebatang lidi
Cirebon
13 Desember 2008
16 Dzulhijah 1429
MOMENTUM
Setiap orang yang hidup
Tak peduli kapan masanya
Pastilah mempunyai sebuah momentum
Kamu tidak bisa
Mengerjakan apa-apa yang kamu tahu
Padahal kamu tahu
Kamu yakin mampu untuk mengerjakannya
Sementara itu
Bolehkah saya bertanya
Mengenai suatu hal
Yang ku tujukan kepadamu
Wahai sahabat
Mengapa kamu masih juga
Mencari apa-apa yang tidak
Kamu tahu
Sebelum mengerjakan
Apa-apa yang kamu tahu
Cirebon
13 Desember 2008
16 Dzulhijah 1429
Tak peduli kapan masanya
Pastilah mempunyai sebuah momentum
Kamu tidak bisa
Mengerjakan apa-apa yang kamu tahu
Padahal kamu tahu
Kamu yakin mampu untuk mengerjakannya
Sementara itu
Bolehkah saya bertanya
Mengenai suatu hal
Yang ku tujukan kepadamu
Wahai sahabat
Mengapa kamu masih juga
Mencari apa-apa yang tidak
Kamu tahu
Sebelum mengerjakan
Apa-apa yang kamu tahu
Cirebon
13 Desember 2008
16 Dzulhijah 1429
Sabtu, 06 Juni 2009
API DERITA
Awan-awan dari ujung
Timur dan barat menjadi hitam
Ketika hari menjelang petang
Petir-petir silih berhamburan
Seakan langit murka
Kepada insane yang durhaka
Terhadap Tuhannya
Ku termenung sendiri
Di ruang hampa
Tak seorang pun tahu ku disana
Hatiku kini tengah gundah
Diselingi rasa bimbang takut dan ngeri
Terhadap perbuatan insan
Di hamparan bumi luas
Lalu ku goreskan dalam
Lembaran api derita
Majalengka
08 Oktober 2006
Timur dan barat menjadi hitam
Ketika hari menjelang petang
Petir-petir silih berhamburan
Seakan langit murka
Kepada insane yang durhaka
Terhadap Tuhannya
Ku termenung sendiri
Di ruang hampa
Tak seorang pun tahu ku disana
Hatiku kini tengah gundah
Diselingi rasa bimbang takut dan ngeri
Terhadap perbuatan insan
Di hamparan bumi luas
Lalu ku goreskan dalam
Lembaran api derita
Majalengka
08 Oktober 2006
Langganan:
Postingan (Atom)
